Dukung Swasembada Pangan, Kemenperin Pertemukan Industri Produsen dan Pengguna Pati Ubi Kayu

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong pengembangan dan peningkatan daya saing industri pati ubi kayu melalui diversifikasi produk, substitusi impor, serta penguatan rantai pasok. Sebagai upaya memperluas pasar nasional, Kemenperin bersama Perhimpunan Pengusaha Tepung Tapioka Indonesia (PPTTI) menggelar Business Matching Pati Ubi Kayu (22/01/2026).

Langkah ini bertujuan untuk memastikan kembali kebutuhan industri pati ubi kayu agar dapat dipenuhi secara optimal oleh produk dalam negeri melalui pertemuan produsen dan pengguna dalam forum Business Matching. Inisiatif tersebut sejalan dengan Strategi Besar Industri Nasional (SBIN) yang berlandaskan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya penguatan backwardforward linkage untuk menciptakan rantai nilai industri yang terintegrasi dan efisien. Kemenperin pun mengakselerasi industrialisasi berbasis sumber daya alam dengan memperkuat keterkaitan hulu–hilir komoditas pati ubi kayu. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut saat ini terdapat 125 perusahaan pati ubi kayu dengan tingkat utilisasi 43 persen dan penguasaan pasar domestik mencapai 79 persen, serta optimistis industri ini dapat terus ditingkatkan dan memperluas penetrasi pasar.

Sebagai komoditas strategis bernilai tambah tinggi, pati ubi kayu dimanfaatkan untuk berbagai produk pangan seperti pemanis, bumbu, makanan ringan, dan mi, serta produk nonpangan seperti kertas, bahan kimia, dan etanol. Kinerja sektor ini juga menunjukkan tren positif dengan nilai ekspor mencapai US$ 18,7 juta pada November 2025 atau meningkat 58,34 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meski memiliki potensi besar dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penguatan industri nasional, sektor pati ubi kayu masih menghadapi tantangan, terutama pada persaingan harga dan mutu dengan produk impor. Untuk dapat menjawab hal tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita, menegaskan pentingnya sinergi antara produsen dan industri pengguna, termasuk melalui penerapan mekanisme Neraca Komoditas (NK). Ia juga mendorong diversifikasi spesifikasi produk sesuai kebutuhan industri serta mengapresiasi langkah pelaku usaha dalam meningkatkan kinerja, memperluas pasar, dan mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri.

Kegiatan Business Matching Pati Ubi Kayu melibatkan 17 industri produsen dari Provinsi Lampung dan 51 calon buyer yang terdiri atas dua asosiasi serta 49 industri pengguna sektor pangan dan nonpangan. Pertemuan bisnis dilakukan secara one-on-one dalam tiga sesi. Plt. Dirjen Industri Agro Putu Juli Ardika berharap kemitraan produsen dan pengguna terus terjalin guna memperkuat kemandirian industri nasional. Sementara itu, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan komitmen menjadikan Lampung sebagai pusat diversifikasi industri tapioka bernilai tambah tinggi serta mendorong kemitraan jangka panjang demi percepatan pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kami ingin industri tapioka di Lampung tidak hanya pada produk konvensional, namun juga berkembang pada berbagai produk turunan bernilai tambah yang tinggi.  Melalui Business Matching ini, kami harap akan melahirkan komitmen yang nyata, kemitraan jangka panjang, dan mempercepat pertumbuhan ekonomi nasional” pungkasnya.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *